Umum

Menjaga Lisan di Era Digital: Perspektif Syariat tentang Fitnah dan Ghibah Online

person
Admin DKM
calendar_todayMinggu, 13 September 2026
schedule4 menit baca

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Di era serba digital seperti sekarang, kemudahan berkomunikasi dan berbagi informasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan berbagai platform digital lainnya memungkinkan kita terhubung dengan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan pula tantangan besar dalam menjaga adab dan etika, khususnya dalam konteks menjaga lisan.

Lisan yang dulu hanya berpotensi menyakiti di lingkup terbatas, kini dengan sentuhan jari dapat menyebar luas ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Fenomena fitnah dan ghibah, yang telah lama menjadi perhatian serius dalam ajaran Islam, kini bertransformasi menjadi "fitnah online" dan "ghibah online" dengan dampak yang jauh lebih besar dan seringkali tak terkendali. Islam, sebagai agama yang sempurna, telah memberikan panduan jelas mengenai bahaya dan larangan terkait hal ini.

Bahaya Fitnah di Dunia Maya

Fitnah dalam syariat Islam adalah menuduh seseorang dengan kebohongan atau menyebarkan berita bohong yang bertujuan merusak kehormatan dan martabatnya. Di dunia maya, fitnah dapat berbentuk unggahan status, komentar, atau bahkan berita palsu (hoax) yang disebarkan tanpa verifikasi. Dampak fitnah online jauh lebih dahsyat karena kecepatannya dalam menyebar dan jangkauannya yang global, mampu merusak reputasi seseorang, memicu perpecahan dalam masyarakat, hingga menimbulkan kekacauan sosial.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an, mengingatkan keras tentang bahaya menyebarkan berita keji: "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nur: 19). Ayat ini menjadi peringatan keras bagi kita semua untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan kehormatan orang lain.

Ghibah Online: Menggunjing di Balik Layar

Ghibah adalah membicarakan aib atau kekurangan orang lain di belakangnya, meskipun hal yang dibicarakan itu benar adanya. Jika fitnah adalah kebohongan, ghibah adalah kebenaran yang tidak pantas diumbar. Di era digital, ghibah sering terjadi dalam bentuk komentar negatif di media sosial, obrolan di grup pesan instan, atau bahkan unggahan yang menyindir seseorang tanpa menyebut nama namun jelas maksudnya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan perumpamaan yang sangat tegas dan menjijikkan tentang ghibah: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12). Ayat ini menggambarkan betapa keji dan tercelanya perbuatan ghibah di sisi Allah.

Pentingnya Tabayyun dan Verifikasi Informasi

Dalam menghadapi banjir informasi di era digital, perintah untuk melakukan tabayyun (klarifikasi atau verifikasi) menjadi sangat relevan dan krusial. Sebelum menyebarkan atau mempercayai suatu informasi, kita diwajibkan untuk meneliti kebenarannya. Hal ini untuk menghindari menyebarkan berita bohong atau fitnah yang dapat merugikan banyak pihak.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6). Ayat ini mengajarkan prinsip dasar literasi digital dalam Islam: jangan mudah percaya, selidiki, dan pastikan kebenarannya sebelum bertindak atau menyebarkan.

Konsekuensi Dunia dan Akhirat

Baik fitnah maupun ghibah, keduanya adalah dosa besar yang memiliki konsekuensi serius, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Di dunia, fitnah dan ghibah dapat merusak hubungan sosial, menciptakan permusuhan, dan mencoreng kehormatan seseorang. Pelakunya bisa kehilangan kepercayaan dan diasingkan dari masyarakat.

Di akhirat, dosa-dosa ini akan menjadi beban berat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan (baik buruknya), namun perkataan itu menjerumuskannya ke neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan betapa besar dampak dari setiap kata yang terucap, apalagi yang disebarkan secara digital.

Hikmah & Pelajaran:

  • Pikirkan sebelum Mengetik/Berbagi: Setiap unggahan, komentar, atau pesan yang kita kirim memiliki konsekuensi. Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini bermanfaat? Apakah ini benar? Apakah ini akan menyakiti orang lain?
  • Lakukan Tabayyun: Jangan mudah percaya pada informasi yang beredar. Selalu verifikasi kebenarannya dari sumber yang terpercaya sebelum menyebarkannya.
  • Jaga Privasi Orang Lain: Hindari membicarakan aib atau kekurangan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung di platform digital.
  • Fokus pada Kebaikan: Manfaatkan media digital untuk menyebarkan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, dan pesan-pesan positif yang membangun.
  • Mohon Ampunan: Jika terlanjur melakukan fitnah atau ghibah, segera bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada orang yang telah kita zalimi.

Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjaga lisan dan jari jemari kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi yang mendatangkan dosa. Mari kita jadikan media digital sebagai sarana untuk berdakwah, berbagi kebaikan, dan mempererat tali silaturahmi, bukan sebagai alat untuk menyebar fitnah dan ghibah yang merusak.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi:

  • Al-Qur'an Surah An-Nur Ayat 19
  • Al-Qur'an Surah Al-Hujurat Ayat 6
  • Al-Qur'an Surah Al-Hujurat Ayat 12
  • Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim (tentang lisan yang menjerumuskan ke neraka)

Bagikan Artikel Ini

Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!